Salam Bikers!!!

Jika kita menelisik lebih dalam pada dunia transportasi kita, maka fakta di lapangan menunujukkan hasil yang kurang menyenangkan. Begitu banyaknya sikap pengguna jalan yang kurang atau bahkan tidak mengindahkan sama sekali keselamatan membuat jalanan kita seperti mimpi buruk bagi setiap orang. Sikap tak acuh pada peraturan dan perbuatan-perbuatan bodoh lainnya secara nyata mengancam keselamatan seluruh pengguna jalan. Seakan sudah menjadi kultur kita bahwa kita bisa bertindak seenaknya di jalan. Padahal, keselamatan adalah yang paling utama dalam setiap perjalanan. Untuk menjaga keselamatan bersama itulah, dibutuhkan sikap saling menjaga dan menghargai setiap pengguna jalan lain.

Coba kita fokus pada pengendara sepeda motor. Jumlah sepeda motor yang terus bertambah dengan pesat semakin memadati jalan-jalan di setiap kota di negeri ini. Mungkin saya kurang referensi untuk mendefinisikan kepadatan itu sebagaimana kenyataan di kota-kota besar. Karena daerah saya bukanlah kota dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Namun, di kota kecil seperti Wates saja jalan-jalan sudah hampir penuh oleh kendaraan pribadi yang jumlahnya juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Bagaimana dengan daerah Anda? Jumlah sepeda motor yang semakin banyak menunjukkan masyarakat kita semakin kritis akan efisiensi transportasi. Namun yang patut disayangkan, dari sekian banyak pengendara yang aktif hanya sedikit (10%, Ditjen Perhubungan Darat) yang –mau dan-mampu untuk berkendara dengan baik dan benar. Padahal berkendara dengan baik dan benar akan menjauhkan pengendara dan pengguna jalan di sekitarnya dari ”masalah”.

Pengendara sepeda motor acap kali disebut sebagai biang kecelakaan paling wahid di jalan raya. Bagi kita yang merasa sudah berkendara sebagaimana mestinya, hal ini sungguh menyinggung perasaan dan harga diri kita. Namun hendaknya jangan termakan emosi dan saling tuduh. Hal itu hanya akan menambah problem kita. Dengan mengesampingkan ego, saya sebagai seorang rider aktif mengakui bahwa ”kaum” saya yaitu pengedara sepeda motor memang layak disebut demikian. Benar bahwa sepeda motor adalah penyumbang terbesar jumlah kecelakaan jalan raya (dari 17.732 kecelakaan di seluruh indonesia, 14.223 diantaranya melibatkan sepeda motor-2004, Dephub RI). Hal ini dikarenakan pengendara yang sudah begitu banyak tidak pernah mendapat edukasi yang baik tentang keselamatan berkendara dari semua pihak yang berwajib. Edukasi atau pendidikan safety riding perlu dijalankan sebagai syarat mendapat SIM. Namun pembuatan SIM di Indonesia (terutama daerah pinggiran seperti Kabupaten saya, Kulon Progo) sungguh membuat saya trenyuh. Tanpa mengesampingkan hormat saya, pembuatan SIM masih ditumpangi keinginan untuk memperkaya diri dari pejabat yang terkait. Ada uang ada barang (SIM), begitulah yang terjadi di sekitar saya dan daerah lain pada umumnya. Dengan sejumlah uang, mudah saja bagi seorang yang belum tentu layak berkendara untuk mendapatkan surat ijin mengemudi. Namun jika seseorang mencoba mendapat SIM dengan jalan ”bersih” malah dipersulit dengan tes-tes yang tidak masuk akal. Hasilnya, mereka kapok dan ikut menjalani proses pembodohan yang disebut di atas.

Sudahlah. Daripada memikirkan masalah yang di luar kewenangan kita, lebih baik menatap ke arah yang lebih realistis. Diri pengendara sendiri. Memang pada kodratnya sepeda motor memang alat transportasi darat yang paling beresiko. Pernahkan Anda perhatikan bahwa saat berkendara kita hanya ditopang oleh dua bidang kecil dari ban sepeda motor kita? Praktis hal ini menghadirkan resiko keseimbangan yang labil. Belum lagi keadaan jalan di Indonesia pada umumnya yang bergelombang dan rusak pada beberapa bagian. Hal ini menambah ”handicap” pengendara dalam perjalanannya. Namun jangan kita menyalahkan pihak yang menciptakan sepeda motor atas kecelakaan yang ditimbulkan oleh sepeda motor. Pabrik telah membuat sepeda motor dengan sedemikian rupa agar aman untuk dikendarai. Namun perilaku pengendara dan pemiliknya yang kurang mengindahkan keselamatan-lah yang menyebabkan itu semua. Kecelakaan yang disebabkan kesalahan teknis sepeda motor sangat jarang ditemui. Kalaupun ada, kesalahan teknis itu adalah tanggungjawab pemilik. Jadi semuanya kembali kepada si manusianya. Sepeda motor hanyalah alat.

Tingginya jumlah kecelakaan akibat kelalaian pengendara sepeda motor membuat saya bertanya-tanya. Benarkah pengendara di Indonesia sudah sedemikian buruknya?Untuk itu saya mencoba ”turun gunung” untuk melihat kenyataan di daerah lain. Dan hasilnya memang cukup untuk membuat saya merenung sepanjang malam. Memang benar. Dari sekian banyak pengendara yang saya temui, sebagian besar masih belum layak untuk turun ke jalanan. Saya pun merasa sebagai makhluk asing di lingkungan tersebut. Orang-orang melihat saya dengan aneh karena saya (bukan sombong) disiplin, tertib dan mengedepankan keselamatan. Justru menurut saya mereka yang aneh. Bisa-bisanya mempertaruhkan nyawa di jalan dengan berlaku seenak perutnya. Saya dan sedikit pengendara yang sadar lainnya tentu tidak ada artinya dalam mereduksi jumlah kecelakaan lalu lintas jika pengendara pada umumnya masih seperempat hati dalam berkendara.

Untuk mengatasi problem di atas maka dibutuhkan apa yang disebut SAFETY RIDING dalam kehidupan bertransportasi. Safety riding adalah berkendara sepeda motor dengan baik dan benar dengan tujuan terciptanya keselamatan bagi pengendara dan pengguna jalan lain. Memang sulit untuk mendapat informasi dan kiat-kiat safety riding di sekitar kita. Karena di sekitar kita umumnya tidak ada sekolah berkendara atau lembaga lain yang berperan untuk memberikan edukasi yang tepat bagi pengendara. Wawasan dan pemahaman yang luas dan menyeluruh tentang safety riding akan memudahkan pengendara untuk menerapkannya dalam kehidupan. Persoalan yang lebih mendasar adalah BAGAIMANA CARANYA MENUMBUHKAN KESADARAN UNTUK BERKEDARA DENGAN BAIK DAN BENAR PADA DIRI PENGENDARA???. Itulah yang menjadi problem terbesar kita sesungguhnya. Jika pengendara sudah sadar akan pentingnya keselamatan, maka pengendara akan tergerak untuk mewujudkan keselamatan itu. Ex.: memakai helm standar, mematuhi peraturan lalin, toleransi, dll.

Maka, saya mengajak Anda untuk ikut menerapkan Safety Riding setiap kali Anda berkendara. Mudah saja. Dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal yang mendasar. Kuncinya adalah HATI NURANI ANDA!!! Dengan melaksanakan apa yang menurut hari nurani Anda baik dan benar untuk dilaksanakan, maka Anda siap untuk memulai proses pembentukkan mental seorang rider. Mental seorang rider akan menuntun Anda untuk melaksanakan setiap perjalanan dengan sebagaimana mestinya. Patuh akan peraturan lalu lintas dan tidak melakukan hal-hal yang berpotensi membahayakan keselamatan bersama adalah langkah paling sederhana dan mendasar dalam Safety Riding.

Selamat berkendara dengan baik dan benar!

Semoga selamat sampai tujuan!!!

Satu komentar

  1. tulisan yang bagus bro … keep posting.


Tulis sebuah Komentar

*
*